Sunday, March 06, 2005

Pembelajaran Klien

di sela-sela ngobrol santai dengan teman seprofesi, kita sempat membicarakan tentang typical klien klien di surabaya. mungkin dari rekan rekan yang dah akrab bernegosiasi dengan klien klien surabaya sudah nggak asing lagi dengan tabiat tabiat mereka. inginnya minta yang murah, bagus dan cepat pengerjaannya. bahkan yang lebih busuk *namun tercium harum* disinyalir adanya clurut clurut pemalu yang hidungnya sangat tajam bila dah mencium yang namanya uang. satu hal yang sempat menjadi masukan bagi saya, ada kawan yang berpendapat bahwa klien klien di surabaya kebanyakan bodoh dan sok pandai terkait dengan konsep design atau hal yang terkait. karena dia merupakan pihak pemegang uang, so merasa bisa berbuat apa apa saja. tapi tentunya nggak smua klien di surabaya macam itu. kemudian bagaimana cara kita sebagai praktisi penyedia jasa untuk menghadapi hal tersebut. jika kita benar benar care dengan keadaan yang dah ada saat ini, dan benar benar ingin memajukan dunia design di surabaya khususnya, tentunya kita akan mengambil langkah langkah sebijaksana mungkin. kita tidak perlu terlalu pelit untuk memberikan informasi yang sebenarnya, dan bukannya justru menjerumuskan klien. beberapa klien mungkin merasa sok tau. dengan berbekal informasi yang dipunyainya (meski belum tentu benar), klien dah berusaha untuk menjatuhkan kita dengan argumen argumennya untuk mendapatkan harga seminim mungkin. namun kadang hal yang membuat kita pusing, harga yang mereka minta tidak masuk di akal. berikut beberapa contoh kasus yang pernah kita alami bersama, yang mungkin anda juga pernah mengalaminya. : * harga disaat kali pertama berjumpa, baik secara tatap muka atau hanya secara tatap suara, hampir semua calon klien akan menanyakan harga terlebih dahulu sebelum kita sempat menanyakan lebih jauh apa yang diminta klien atau berpresentasi dihadapan klien. kadang hal seperti ini hanya akan mematikan gerak posisi kita sebelum kita benar benar memastikan harga sebenarnya dari permintaan klien. tak sedikit pula kita terkadang terbawa oleh suasana sehingga menyebutkan sebuah nominal yang pada akhirnya nominal itu digunakan klien sebagai acuan. sialnya lagi, acuan itu dijadikan harga yang mati. ada baiknya bila hal tersebut terjadi, kita segera mengarahkan klien bahwa harga dari sebuah project yang diminta klien itu sangat realtif. tergantung dari permintaan sang klien. kita usahakan agar klien memperhatikan apa yang kita presentasikan sebelum klien berkomentar banyak dengan informasi informasinya yang belum tentu benar. agar klien tidak bingung dengan harga yang kita berikan, kita breakdown harga yang kita berikan kepada klien sehingga klien mengetahui harga segitu sebenarnya untuk apa saja. jika klien merasa terlalu mahal dengan total harga yang kita tawarkan, kita bisa memberikan alternatif sub sub post dengan harga lebih murah. dengan demikian, klien akan bisa menerima alasan kenapa harga tersebut tidak sesuai dengan bayangannya. disamping itu pula, jangan lupa untuk memberikan informasi yang benar, jangan malah menyesatkan klien. * produk busuk dijual murah ? produk bagus dijual mahal ? saya sempat teringat cerita kawan, terkait dengan teknik menjual dua buah produk yang berbeda. produk A kualitasnya bagus, orang langsung menilai harganya pasti mahal dan produk B kualiasnya jelek. tentu orang menilai harganya akan murah.. tapi apakah kedua produk itu bila kita sodorkan kepada klien akan tetap statusnya. produk A akan terbeli mahal dan produk B terbeli murah ? 100% not guarantied. tergantung oleh banyak hal. akan tetapi, sebagai penjual kita sepatutnya bisa membuat produk A yang benar benar bagus tetap berharga mahal di depan klien dan produk B yang sebenarnya jelek, bisa berharga mahal juga di depan klien. dengan catatan, masing masing produk bisa kita buktikan alasan alasan kenapa produk produk itu mahal. dari sini lah pembelajaran kepada klien terjadi. * tidak masuk akal ? murah.. bagus.. dan pengerjaan cepat (baca: tidak lazim). hal ini yang sering membuat pusing para praktisi praktisi di surabaya. sudah banyak bukti bawah sesuatu yang dikerjakan tidak sesuai dengan porsi waktunya, hasilnya tidak akan mencapai maksimal. terlebih lagi sometimes praktisi tidak bisa mengingkari bahwa dalam dirinya masih ada idealisme yang ingin tersentuh pada sebuah project yang tengah dia tangani. terlepas dari itu semua, terkait dengan murah pun kita harus pandai pandai membelajari klien bahwa ono rego ono rupo.

No comments: